PENDAHULUAN
Dalam buku The Mirror and The Lamp, M.H. Abrams
meneliti teori-teori mengenai sastra yang berlaku dan diutamakan di masa
Romantik, khususnya dalam puisi dan ilmu sastra Inggris pada abad ke-19
(Teeuw,2015: 40). Didalam tulisan tersebut Abrams membuat model pendekatan
karya sastra yang mengandung empat pendekatan kritis yang utama terhadap karya
sastra sebagai berikut :
- Pendekatan
yang menitikberatkan karya itu sendiri, pendekatan ini disebut obyektif,
- Pendekatan
yang menitikberatkan penulis, yang disebut ekspresif;
- Pendekatan
yang menitikberatkan semesta, yang disebut mimetik;
- Pendekatan
yang menitikberatkan pembaca, disebut pragmatik.
(Teeuw,2015: 41).
Pendekatan karya sastra
digunakan untuk menafsirkan ataupun meninterpretasikan karya sastra yang telah
dibuat oleh pengarang atau penyair agar pembaca mampu memahami makna yang
terkandung dalam suatu karya sastra. Pendekatan sastra secara tradisional
menurut M.H. Abrams terdiri dari empat pendekatan, yaitu : pendekatan objektif,
ekspresif, mimetik, dan pragmatik. Empat pendekatan tradisional tersebut dapat
diterapkan untuk mengkaji karya sastra salah satunya berupa puisi.
Penulis akan mengkaji puisi
Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari karya Sapardi Djoko Damono menggunakan pendekatan mimetik.
PEMBAHASAN
“Orientasi mimetik memandang karya sastra sebagai tiruan, cerminan, ataupun representasi alam maupun kehidupan. Kriteria yang dikenakan pada karya sastra adalah “kebenaran” representasi objek-objek yang digambarkan ataupun yang hendaknya digambarkan” (Pradopo, 2009:94). Pendekatan mimetik menganggap karya sastra berhubungan dengan semesta (dunia sekelilingnya). Segala hal yang tertuang dalam karya sastra dianggap sebagai cerminan dalam kehidupan nyata. Berikut ini adalah contoh pengkajian puisi melalui pendekatan mimetik :
BERJALAN
KE BARAT WAKTU PAGI HARI
Sapardi Djoko Damono
1. waktu
aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari
2. mengikutiku di belakang
3. aku
berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang
4. memanjang di depan
5. aku
dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara
6. kami yang telah menciptakan bayang-bayang
7. aku
dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di
8. antara
kami yang harus berjalan di depan
1971
(Hujan Bulan
Juni, 1999: 42)
Pengkajian Puisi Secara Mimetik :
Penulis mengkaji puisi Berjalan
Ke Barat Waktu Pagi Hari
karya Sapardi Djoko Damono menggunakan pendekatan mimetik,
maka penulis mengaitkan makna puisi dengan realita yang ada di dunia. Pada
dasarnya apabila seseorang berjalan ke arah barat diwaktu pagi hari maka
matahari akan mengikuti di belakang karena posisi matahari terbit terdapat
berada di timur. Posisi matahari yang terletak di belakang tokoh Aku akan
membuat sebuah bayang-bayang yang memanjang di depan tokoh Aku.
Jika
dikaitkan dengan cerminan kehidupan, matahari dapat diartikan seolah-olah
sebagai masa lalu si aku dan berjalan ke arah barat dapat diumpamakan
seolah-olah sebagai proses melangkah ke hari esok. Sehingga ketika aku
melangkah untuk membuka lembaran masa yang baru, pengalaman masa lalu akan
tetap mengikuti dari belakang.
1.
waktu
aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari
2.
mengikutiku di belakang
Pada
larik ketiga dan keempat tokoh aku berjalan mengikuti bayangannya sendiri yang
telah dibuat oleh matahari. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, apabila
matahari digambarkan sebagai masa lalu maka cahaya matahari yang seolah-olah
digambarkan sebagai kelakuan masa lalu akan membentuk bayangan yang nantinya
akan terjadi di masa depan. Segala hal yang telah kita perbuat di masa lalu
akan tergambarkan seperti apa bayangan di masa depan nanti. Sehingga pada bait
ketiga dan keempat, tokoh aku mengikuti bayang-bayang yang memanjang ke depan
maksudnya adalah tokoh aku terus berjalan (melakukan proses kehidupan)
mengikuti bayangan masa depan yang telah tokoh aku lakukan di masa lalu untuk
segala hal yang lebih baik di masa depan.
3.
aku
berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang
4.
memanjang di depan
Pada larik kelima dan
keenam menceritakan bahwa dalam membuat bayangan di masa depan, tokoh aku tidak
pernah bertengkar dengan matahari (masa lalu) untuk mempermasalahkan mengenai
siapa yang telah membuat bayangan di masa depan. Dalam membuat bayangan di masa
depan bukan atas pengalaman dimasa lalu (matahari) ataupun tokoh aku yang terus
berjalan (melakukan proses kehidupan) tetapi kedua hal tersebutlah yang membuat
bayangan di masa depan.
5.
aku
dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara
6. kami yang telah
menciptakan bayang-bayang
Sedangkan pada larik kedelapan dan
kesembilan, tokoh aku dan bayangannya tidak pernah bertengkar mengenai siapa
yang seharusnya berjalan di depan karena pada hakikatnya saat proses kehidupan
berlangsung bayangan akan selalu berada di depan sebagai cerminan seseorang di
masa depan. Begitupun saat berjalan kearah barat dikala pagi hari, maka
bayangan akan selalu didepan memimpin jalan.
Daftar Pustaka
Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2012. Teori, Metode, dan Teknik, Penelitian Sastra. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Teew, A. 2015. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.