Rabu, 29 Oktober 2025

Peran APBN dalam Pembangunan Infrastruktur dan Penguatan SDM Oleh Rafli Febrian Al Fahrezi

Seperti yang kita ketahui, visi Presiden Prabowo Subianto adalah mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan memberantas kemiskinan melalui pemanfaatan APBN. Anggaran negara diarahkan pada pembangunan infrastruktur yang merata, penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan, dukungan bagi UMKM, reformasi subsidi, serta inovasi pembiayaan. Semua langkah ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui berbagai kementerian, salah satunya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Salah satu program strategis Kementerian PUPR untuk memperkuat infrastruktur sosial adalah PISEW (Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah). Program ini bertujuan membuka lapangan pekerjaan, mendorong perkembangan petani lokal, serta memperbaiki infrastruktur fisik untuk menciptakan ekonomi yang lebih merata. Dalam rapat yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Cipta Karya, Noegraha Laksana, Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Provinsi DIY sekaligus Pgs. Pejabat Pembuat Komitmen PKS & BPB, menyampaikan bahwa sasaran program tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat, memberikan tambahan penghasilan selama proses konstruksi, serta menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan. Seluruh kegiatan ditargetkan selesai dalam satu tahun anggaran agar manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat.

Selain pembangunan fisik, APBN juga mendukung pengembangan 
infrastruktur hijau, yaitu jaringan kawasan alami dan semi-alami yang memberikan layanan ekosistem seperti penyediaan air bersih, pengurangan risiko banjir, peningkatan keanekaragaman hayati, serta peningkatan kualitas udara dan kesejahteraan masyarakat. Infrastruktur hijau terbukti dapat meningkatkan kualitas perkotaan. Contohnya, New York memiliki kualitas air keran yang sangat baik karena berinvestasi pada sungai, lahan basah, dataran banjir, dan hutan yang mampu menyediakan layanan ekosistem penting.

Infrastruktur hijau juga membuka peluang ekonomi baru. Program ramah lingkungan ini dapat menciptakan lapangan pekerjaan, mendukung industri rantai pasok material, sistem pemanenan air hujan, hingga teknologi perkerasan permeabel. Banyak negara memanfaatkan infrastruktur hijau secara masif, sehingga Indonesia tidak boleh tertinggal dalam pengembangannya karena berkaitan dengan daya saing ekonomi global.

Selain pembangunan fisik dan lingkungan, penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penting dalam pertumbuhan inklusif. Di era digitalisasi, masyarakat dituntut menjadi lebih inovatif, kreatif, dan memiliki keterampilan digital yang relevan. Oleh karena itu, strategi pengelolaan SDM menjadi kunci bagi organisasi maupun negara dalam menghadapi tantangan zaman.

Pelatihan dan pengembangan keterampilan digital kini menjadi prioritas. Hal ini mencakup pelatihan penggunaan teknologi terbaru, pemahaman keamanan siber, serta penguatan soft skills seperti kreativitas dalam pemecahan masalah dan kemampuan kerja sama tim. Upaya-upaya ini memastikan SDM Indonesia mampu berkontribusi dalam pembangunan ekonomi yang semakin kompetitif dan berbasis teknologi.

Selasa, 05 Juni 2018

Kajian Puisi Melalui Pendekatan Mimetik

PENDAHULUAN



Dalam buku The Mirror and The Lamp, M.H. Abrams meneliti teori-teori mengenai sastra yang berlaku dan diutamakan di masa Romantik, khususnya dalam puisi dan ilmu sastra Inggris pada abad ke-19 (Teeuw,2015: 40). Didalam tulisan tersebut Abrams membuat model pendekatan karya sastra yang mengandung empat pendekatan kritis yang utama terhadap karya sastra sebagai berikut :
  1. Pendekatan yang menitikberatkan karya itu sendiri, pendekatan ini disebut obyektif,
  2. Pendekatan yang menitikberatkan penulis, yang disebut ekspresif;
  3. Pendekatan yang menitikberatkan semesta, yang disebut mimetik;
  4. Pendekatan yang menitikberatkan pembaca, disebut pragmatik. (Teeuw,2015: 41).
Pendekatan karya sastra digunakan untuk menafsirkan ataupun meninterpretasikan karya sastra yang telah dibuat oleh pengarang atau penyair agar pembaca mampu memahami makna yang terkandung dalam suatu karya sastra. Pendekatan sastra secara tradisional menurut M.H. Abrams terdiri dari empat pendekatan, yaitu : pendekatan objektif, ekspresif, mimetik, dan pragmatik. Empat pendekatan tradisional tersebut dapat diterapkan untuk mengkaji karya sastra salah satunya berupa puisi.
Penulis akan mengkaji puisi Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari karya Sapardi Djoko Damono menggunakan pendekatan mimetik.




PEMBAHASAN


“Orientasi mimetik memandang karya sastra sebagai tiruan, cerminan, ataupun representasi alam maupun kehidupan. Kriteria yang dikenakan pada karya sastra adalah “kebenaran” representasi objek-objek yang digambarkan ataupun yang hendaknya digambarkan” (Pradopo, 2009:94). Pendekatan mimetik menganggap karya sastra berhubungan dengan semesta (dunia sekelilingnya). Segala hal yang tertuang dalam karya sastra dianggap sebagai cerminan dalam kehidupan nyata. Berikut ini adalah contoh pengkajian puisi melalui pendekatan mimetik :


BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

Sapardi Djoko Damono

1.      waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari
2.      mengikutiku di belakang
3.      aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang
4.      memanjang di depan
5.      aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara
6.      kami yang telah menciptakan bayang-bayang
7.      aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di
8.      antara kami yang harus berjalan di depan


1971
(Hujan Bulan Juni, 1999: 42)



Pengkajian Puisi Secara Mimetik :
Penulis mengkaji puisi Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari karya Sapardi Djoko Damono menggunakan pendekatan mimetik, maka penulis mengaitkan makna puisi dengan realita yang ada di dunia. Pada dasarnya apabila seseorang berjalan ke arah barat diwaktu pagi hari maka matahari akan mengikuti di belakang karena posisi matahari terbit terdapat berada di timur. Posisi matahari yang terletak di belakang tokoh Aku akan membuat sebuah bayang-bayang yang memanjang di depan tokoh Aku.
Jika dikaitkan dengan cerminan kehidupan, matahari dapat diartikan seolah-olah sebagai masa lalu si aku dan berjalan ke arah barat dapat diumpamakan seolah-olah sebagai proses melangkah ke hari esok. Sehingga ketika aku melangkah untuk membuka lembaran masa yang baru, pengalaman masa lalu akan tetap mengikuti dari belakang.
1.      waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari
2.      mengikutiku di belakang
Pada larik ketiga dan keempat tokoh aku berjalan mengikuti bayangannya sendiri yang telah dibuat oleh matahari. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, apabila matahari digambarkan sebagai masa lalu maka cahaya matahari yang seolah-olah digambarkan sebagai kelakuan masa lalu akan membentuk bayangan yang nantinya akan terjadi di masa depan. Segala hal yang telah kita perbuat di masa lalu akan tergambarkan seperti apa bayangan di masa depan nanti. Sehingga pada bait ketiga dan keempat, tokoh aku mengikuti bayang-bayang yang memanjang ke depan maksudnya adalah tokoh aku terus berjalan (melakukan proses kehidupan) mengikuti bayangan masa depan yang telah tokoh aku lakukan di masa lalu untuk segala hal yang lebih baik di masa depan.
3.      aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang
4.      memanjang di depan
Pada larik kelima dan keenam menceritakan bahwa dalam membuat bayangan di masa depan, tokoh aku tidak pernah bertengkar dengan matahari (masa lalu) untuk mempermasalahkan mengenai siapa yang telah membuat bayangan di masa depan. Dalam membuat bayangan di masa depan bukan atas pengalaman dimasa lalu (matahari) ataupun tokoh aku yang terus berjalan (melakukan proses kehidupan) tetapi kedua hal tersebutlah yang membuat bayangan di masa depan.
5.      aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara
6.      kami yang telah menciptakan bayang-bayang
Sedangkan pada larik kedelapan dan kesembilan, tokoh aku dan bayangannya tidak pernah bertengkar mengenai siapa yang seharusnya berjalan di depan karena pada hakikatnya saat proses kehidupan berlangsung bayangan akan selalu berada di depan sebagai cerminan seseorang di masa depan. Begitupun saat berjalan kearah barat dikala pagi hari, maka bayangan akan selalu didepan memimpin jalan.









Daftar Pustaka


Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2012. Teori, Metode, dan Teknik, Penelitian Sastra. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Teew, A. 2015. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.

Peran APBN dalam Pembangunan Infrastruktur dan Penguatan SDM Oleh Rafli Febrian Al Fahrezi

Seperti yang kita ketahui, visi Presiden Prabowo Subianto adalah mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan memberantas kemiskinan melalui pemanfaat...