Seperti yang kita ketahui, visi Presiden Prabowo Subianto adalah mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan memberantas kemiskinan melalui pemanfaatan APBN. Anggaran negara diarahkan pada pembangunan infrastruktur yang merata, penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan, dukungan bagi UMKM, reformasi subsidi, serta inovasi pembiayaan. Semua langkah ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui berbagai kementerian, salah satunya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Salah satu program strategis Kementerian PUPR untuk memperkuat infrastruktur sosial adalah PISEW (Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah). Program ini bertujuan membuka lapangan pekerjaan, mendorong perkembangan petani lokal, serta memperbaiki infrastruktur fisik untuk menciptakan ekonomi yang lebih merata. Dalam rapat yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Cipta Karya, Noegraha Laksana, Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Permukiman Provinsi DIY sekaligus Pgs. Pejabat Pembuat Komitmen PKS & BPB, menyampaikan bahwa sasaran program tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat, memberikan tambahan penghasilan selama proses konstruksi, serta menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan. Seluruh kegiatan ditargetkan selesai dalam satu tahun anggaran agar manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat.
Selain pembangunan fisik, APBN juga mendukung pengembangan
infrastruktur hijau, yaitu jaringan kawasan alami dan semi-alami yang memberikan layanan ekosistem seperti penyediaan air bersih, pengurangan risiko banjir, peningkatan keanekaragaman hayati, serta peningkatan kualitas udara dan kesejahteraan masyarakat. Infrastruktur hijau terbukti dapat meningkatkan kualitas perkotaan. Contohnya, New York memiliki kualitas air keran yang sangat baik karena berinvestasi pada sungai, lahan basah, dataran banjir, dan hutan yang mampu menyediakan layanan ekosistem penting.Infrastruktur hijau juga membuka peluang ekonomi baru. Program ramah lingkungan ini dapat menciptakan lapangan pekerjaan, mendukung industri rantai pasok material, sistem pemanenan air hujan, hingga teknologi perkerasan permeabel. Banyak negara memanfaatkan infrastruktur hijau secara masif, sehingga Indonesia tidak boleh tertinggal dalam pengembangannya karena berkaitan dengan daya saing ekonomi global.
Selain pembangunan fisik dan lingkungan, penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penting dalam pertumbuhan inklusif. Di era digitalisasi, masyarakat dituntut menjadi lebih inovatif, kreatif, dan memiliki keterampilan digital yang relevan. Oleh karena itu, strategi pengelolaan SDM menjadi kunci bagi organisasi maupun negara dalam menghadapi tantangan zaman.
Pelatihan dan pengembangan keterampilan digital kini menjadi prioritas. Hal ini mencakup pelatihan penggunaan teknologi terbaru, pemahaman keamanan siber, serta penguatan soft skills seperti kreativitas dalam pemecahan masalah dan kemampuan kerja sama tim. Upaya-upaya ini memastikan SDM Indonesia mampu berkontribusi dalam pembangunan ekonomi yang semakin kompetitif dan berbasis teknologi.